Jumat, 24 Juli 2020

Tips Belanja Barang Preloved/Bekas Secara Online

Beberapa hari lalu geger dunia maya dikagetkan dengan cerita seseorang yang sedang melakukan kegiatan thrifting mencari Preloved Stuff yang malah menemukan ‘tai kering’ disalah satu celana yang didisplay.

Tentu bikin ngeri dan bertanya-tanya, "kok bisa?" terutama kalau kamu belum pernah atau terbiasa untuk belanja barang bekas berkualitas sebelumnya. Padahal sebagai orang yang sudah berpengalaman dan menyukai dunia jual beli preloved stuff, aku bisa jamin kejadian ala tai kering ini 1:1000 deh kemungkinan bisa kamu alami alias jarang banget hampir nggak mungkin!!


Dilatar belakangi oleh kegregetan untuk kupas tuntas isu barang bekas yang belum umum dipahami di negeri ini serta janji akan bikin konten lebih informatif nggak melulu curahan hati, akhirnya aku beranikan diri menulis garis besar pengalaman dalam jual beli preloved stuff selama ini dan karena sekarang tengah pandemi pastinya aku akan mendukung gerakan di rumah saja jadi tipsnya dilengkapi dengan kalimat secara online/daring.

3 Cara Tetap Punya Uang Di Masa Pandemi

Pandemi masih berlangsung. Sana sini makin sering kita dapati situasi memburuk. Dirumahkan, potong gaji, sedikit orderan, tidak bisa berkumpul bersama keluarga, sekolah dan kampus libur entah sampai kapan.
Terus berada dalam keadaan seperti ini tentu melelahkan dan membuat frustasi. Namun perut masih perlu diisi, penanak nasi harus mengebul saban hari, susu anak, uang listrik, gaji pegawai, bayar kontrakan dan masih banyak lagi kebutuhan yang tidak bisa berhenti dicukupi. Kalau begini mesti pintar-pintar putar otak cari solusi tetap dapat uang selama pandemi.


Aku punya rekomendasi nih beberapa hal yang bisa kamu coba lakukan dari rumah untuk tetap bertahan hidup selama pandemi sambil tentu berdoa semoga lekas ada solusi nyata mengusir Corona:

Senin, 06 Juli 2020

Review Paruh Pertama 2020

Sudah masuk bulan Juli dan masih dalam masa pandemi padahal sudah kangen jalan-jalan dan selfie sana sini. Mengobati rindu, aku jadi sering mengingat kenangan beberapa waktu lalu, buka-buka folder kamera, posting foto hastag throwback di sosial media.

Kadang juga ngide dandan heboh terus foto-foto deh di sekitar rumah bonus disenyumin maklum oleh tetangga, paham tingkat stres dan meredamnya beda-beda. Apa aja dilakukan agar tetap semangat dan waras menghadapi hari belakangan penuh laporan dan kebijakan yang bikin kurva bukannya melandai malah makin tegak menyentuh angka yang mengkhawatirkan.

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Senin, 22 Juni 2020

Perspektif Berbeda: Pria Manis

Pria manis? Sebuah judul yang janggal bukan? Pria biasanya lebih identik dengan sifat kuat, besar, gagah dan perkasa. Sedang manis lekat dengan gambaran tentang wanita. 

Photo by Clem Onojeghuo on Unsplash

Menurut temanku, secara garis besar ini ada kaitannya dengan nilai patriarki yang telah ada dan kita, manusia, internalisasi dalam kehidupan sehari-hari sekian lama. Sekelompok orang merasa jauh lebih tinggi derajatnya karena memiliki perangkat tertentu yang tertempel di dirinya.

Sabtu, 20 Juni 2020

Monyet dan Kambing

Photo by Patrick Beznoska on Unsplash

Manusia menulis harapan pada selembar kertas,
pada catatan di telepon genggam, pada warna warni dinding kamar
lalu hancur berantakan ketika tidak sesuai
manusia menetapkan batas bahagia pada waktu, usia, pendapatan, pasangan dan kekayaan
untuk kemudian muram saat tidak tercapai

Manusia saling iri
melihat dari kaca mata masing-masing dari tempat rendah atau tinggi
sesekali mereka datang berbondong-bondong
ada yang minta motivasi
sebagiannya lagi minta aji

Pagi ini

Kapan ya aku bisa dengan lega menghadapi sesuatu tanpa berpikir untuk kabur? Menghadapi untuk menyelesaikan lalu pergi, masalahnya dalam hati selalu muncul berbagai skenario bahwa hal-hal belum selesai itu yang menahan untuk beranjak.
Banyak pertimbangan.
Aku yakin perasaan ini nggak common disusul dengan pertanyaan,
“Apa susahnya sih? Just do it!!

NGGAK BISA, belum sekarang mungkin.

Photo by Adrian Swancar on Unsplash

Jumat, 12 Juni 2020

Mengulas Film Indonesia

Ulasan Film Langit Biru

Film drama musikal dengan misi tersurat besar mengenai stop kekerasan di sekolahyang masih terperangkap jurus basi ala Petualangan Sherina 2.0 di mana 2 kelompok anak yang berbeda dihadapkan untuk saling berkelahi dan menari.

Berlama-lama diintroduksi, alur terasa keteter saat menuju ke kesimpulan di belakang. Selain bahwa tidak ada film sejenis diselang waktu yang sama sehingga berfungsi mengisi kekosongan tayangan, tidak ada kelebihan signifikan dari film ini dibandingkan film musikal yang telah ada sebelumnya.

Lagi, malah jadi bukti kurangnya peran orang tua dan guru dalam isu kekerasan pada anak di sekolah. Mereka yang punya tanggung jawab sekaligus kuasa lebih besar hanya ditampilkan bak tempelan yang memberi pujian dan nasihat tipis-tipis juga lebih sigap menyelesaikan masalah dengan hukuman atas kekeliruan.

Bagi saya, Langit Biru hanya cukup untuk dinikmati sisi musikalitasnya saja, tidak untuk dramanya.

Penulis ulasan menggunakan jenis kritik impresif dan penilaian cerita.