Senin, 10 Februari 2020

Bahas Putus, Yuk

Sebagai orang yang sering dicurhati tapi minim pengalaman tentang hubungan percintaan, hari ini aku ingin berbagi perspektif. Ceritanya tentang bagaimana hubungan yang berjalan sekian lama bisa dilihat dari perspektif yang berbeda.


Beberapa waktu lalu, seseorang yang aku kenal baru saja mempublikasikan diri telah mengakhiri hubungan dengan sang kekasih yang telah berjalan selama kurang lebih 7 tahun lamanya. Mereka bersama sejak bangku kuliah strata 1. Si lelaki kemudian melanjutkan dengan bekerja dibidang hiburan, si gadis juga sama. Namun ia melakukannya dari negara yang jauh, Inggris Raya.

Ya, Mbak M sebut saja, memilih untuk melanjutkan pendidikan ke negeri sebrang sembari melebarkan sayap di dunia permodelan. Layaknya muda mudi usia dewasa muda mereka terlihat baik-baik saja. Beberapa kali jalan bersama terakhir malah liburan ke Jepang jadi pilihan mengisi waktu saat Mbak M pulang.

Kamis, 30 Januari 2020

MENGOPERASI ISI KEPALA


Perempuan layaknya binatang buruan, kadang. Kita dipojokkan dengan berbagai taring dan gigi tajam iklan yang entah bagaimana dibuat terkesan meminta kita berkaca dan menyadari betapa memalukannya tampilan luar diri.

“Mau lebih tinggi?”
“Memperbesar payudara dengan konsumsi produk ini..”
“Hidung mancung seketika tanpa operasi.”

Photo by Yoann Boyer on Unsplash

Perempuan diperdaya pada pemahaman bahwa laki-laki, punya ciri khas ketertarikan tunggal; pada keindahan fisik. Maka perempuan lalu berlomba tampil cantik, muda dan seksi.

Rumah Kita Bersama, Indonesia



“Kalau kita temenan sama mereka, nanti kita masuk neraka ya, Kak?” suatu hari seorang gadis cilik mendatangiku untuk bertanya. Dengan mengernyitkan dahi aku melihat ke arahnya lalu duduk menyejajarkan pandangan kami berdua. Tepat di bola matanya yang hitam sempurna, aku menatap dan membayangkan siapa dan atas dasar apa seseorang mengatakan hal yang menyedihkan seperti itu. 
Kita boleh kok temenan sama siapa saja. Saling tolong menolong dalam kebaikan.” Kuusap kepalanya.

Pengalaman ini menjadi catatan tersendiri di kepalaku. Wajah gadis cilik yang kebingungan itu bagiku adalah wajah kebingungan bukan hanya satu orang namun juga sebagian besar dari kita. Betapa banyak hal yang terjadi wara-wiri di berita, sosial media atau di kehidupan sehari-hari di mana sebagai warga negara, kita mempertanyakan kembali tentang arti berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Produk Indonesia Jadi Raja di Negaranya

Tumbuh sebagai remaja muda di daerah kecil di pedalaman Indonesia, aku dan anak-anak baru gede  di wilayah kami terbiasa jajan skincare dan make up di warung-warung palugada (apa lu mau, gua ada) atau untuk yang lebih lengkap lagi; toko-toko di pasar. Kami juga tumbuh dengan berbagai tanaman yang dipercaya turun temurun punya daya untuk kecantikan dan kesehatan.
Begitulah perkenalanku dengan berbagai perawatan tubuh dan warna warni make up bermula.

Photo by Noah Buscher on Unsplash

Agak besar, setelah merantau ke kota dengan lebih beragam manusia serta interaksi dan berbagai kemudahan akses media sosial, aku jadi semakin terpapar informasi terkait topik kecantikan. Perlahan aku mengenal tentang skincare dari Korea yang menjanjikan kulit putih, bersih sampai pori-pori terlihat samar. Tertarik, aku pun mulai mencoba hingga mengoleksi beberapa merk yang selalu tampil di laman rekomendasi.

MENONTON KIM JI YOUNG 1982, MELIHAT AKU DI DALAMNYA


Kamu harus berpakaian dengan layak,” ucap Ayah Kim Ji Young saat menjemput putrinya yang menangis ketakutan usai turun dari bus. Keterangan lebih lanjut tentang apa yang terjadi di bus tersebut bisa kamu saksikan sendiri di filmnya.
Aku, kamu dan sepertinya hampir semua perempuan di dunia ini pasti pernah mendengar nasihat dengan maksud yang sama.

Photo by Han Chenxu on Unsplash



Hai kamu perempuan, berpakaianlah sesuai aturan agama agar aku bisa menjaga mata dan syahwatku. Jangan tambahi dosa kami dengan melihatmu berpakaian tapi telanjang.”
Kalau ini versi ‘solehnya’ yang intinya juga sama, mengatur bagaimana perempuan mesti berdandan.


Beberapa waktu lalu seorang Akhi di grup alumni forum keislaman yang aku ikuti saat kuliah dulu, memotret postingan instagramku dan mengirimkannya ke GRUP. Iya, grup bukan pesan pribadi. Mengatakan bahwa aku telah berubah dan menasihati agar aku bisa menjadi contoh adik-adik lain dalam berpakaian.

Senin, 30 September 2019

Menulis untuk Mengadu


"Kenapa kamu suka menulis?" suatu hari seorang Pria bertanya padaku ingin tahu.
Pertanyaannya ku jawab sambil lalu kala itu.
"Hm.. kenapa ya? Karena sepertinya aku tidak punya bakat lain? Dan orang-orang terlihat menikmati cerita yang aku buat." Jawabku ceria.

Malamnya, aku berpikir lama. Menyisir pandangan ke tumpukan buku di pinggir kasur, di atas meja, di dalam lemari.
Kenapa ya aku suka menulis?

***

Photo by Caleb Woods on Unsplash

Aku anak pertama dari pasangan muda yang memutuskan menikah di usia belum genap 25. Masa di mana anak mudanya percaya, usia 20 an sudah pantas dianggap dewasa dan salah satu bukti kedewasaan adalah dengan membina keluarga.

Mama dan Papa berasal dari keluarga sederhana, ketika mengontrak rumah sendiri hampir tidak membawa apa-apa selain beberapa helai pakaian. Hanya tikar seadanya digelar untuk menyambut tamu di ruangan yang jadi satu dengan dapur. Kakek ku, pria paling aktif dan ekstrovert se-semesta sampai merasa perlu membawa 3 kursi plastik dari rumahnya.
Mengikat erat pada bus yang berhenti di depan gubuk kayu tempat tinggalnya, lalu membawa ke rumah pasangan pengantin baru itu.

Saat kecil, aku lebih sering melihat punggung orang tua yang pergi bekerja atau wajah kelelahan ketika mereka pulang. Lalu dengan sendirinya merasa terbiasa dengan kesendirian. Kakek ku kadang datang dan tinggal sementara waktu, namun karena Beliau tidak bisa meninggalkan keluarga lain di kampung halaman terlalu lama, seringnya aku hanya tinggal dengan Adik Perempuan Mama di rumah.

Beliau adalah satu-satunya orang yang menemani sekaligus paling sering pergi meninggalkanku sendirian kala itu. Tanteku masih sangat muda. Usia kami hanya selisih 8 tahun. Bagi Tante, Ibuku adalah juga Ibunya karena Nenek meninggal tidak lama setelah melahirkannya.

Kami lebih sering bertengkar. Dia tidak pernah merasa bersalah meninggalkan aku lama tiap malam sendirian untuk bermain dengan temannya. Bagiku yang belum mengerti bahwa dia juga punya hak bermain bukan hanya kewajiban mengurusku, seringnya lalu merasa patah hati.
Orang tua jarang ada di rumah, Tante yang diminta menemani malah asyik dengan dunianya sendiri.
Aku lalu memutuskan untuk mengalihkan kekecewaan pada satu-satunya obat hati yang aku tahu, membaca.

Jumat, 19 Juli 2019

Ayah dan Ponsel Merah

Karena sekarang sudah ada Instagram yang dilengkapi dengan berbagai tools yang bisa buat semakin betah dan lebih mudah terdisktraksi dari menulis panjang di blog, jadilah si Simpul Kecil diacuhkan sejenak. Belum lagi, aku punya proyek baru yang akan segera rilis Agustus ini, insyaAllah. Tapi rindu menang kali ini, sensasi menulis di blog rasa-rasanya belum bisa dikalahkan oleh menulis di medium manapun.

Hari ini aku mau cerita tentang 'pengorbanan seorang Ayah'. Walau tentu saja aku kurang menyukai pilihan kata 'pengorbanan' yang awalnya dulu ku pikir seolah merupakan aksi yang dipaksakan. Kok pengorbanan sih kesannya heroik sekali padahal kan sudah jadi konsekuensi jika memutuskan punya anak ya pasti ada yang perlu dilakukan sebagai akibat dari perbuatan, iya kan?

Sampai akhirnya mengalah dengan istilah setelah melihat bagaimana Pamanku dengan tiga orang anak yang masih bocah-bocah datang membawa ponsel pintar baru ke rumah. Malam saat seisi rumah sudah siap tidur, Paman datang mencariku.

"Yay, ini gimana buka kuncinya?", tanya Beliau setelah memanggil-manggil namaku meminta keluar dari kamar.

"Hp baru?"

"Iya, buat Ginda.", senyum Beliau mekar, lebar.


Photo by Braden Collum on Unsplash
Pamanku yang juga aku panggil Ayah memang tidak tahu banyak soal gawai, dunia World Wide Web dan hal-hal yang berhubungan dengan digital lainnya. 
Namun sama seperti lapangan hijau, angin dan ilalang ilalang, manusia seperti Beliau lah yang tetap menjaga kewarasanku dan secara luas masyarakat desa ini.