Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2020

Tentang Durhaka

Beberapa waktu yang lalu aku membaca curahan hati seorang gadis di media sosial tentang bagaimana sang ibu menolak calon suami yang dia ajukan, malah memilih untuk menyodorkan calon baru sebagai pendamping tanpa komunikasi yang memadai untuk bisa bertukar pikiran dan saling melegakan keputusan. Saat itu aku yang (seperti biasa) SOK TAU membalas dengan berapi-api mengenai betapa pentingnya untuk memulai komunikasi dan melemparkan berbagai saran agar teguh pendirian, bahwa kamu punya hak untuk memilih kehidupan di masa depan bla bla bla...

Photo by Velizar Ivanov on Unsplash

Sampai sore ini tiba-tiba sebuah pemahaman baru menghantamku saat sedang melamun sembari makan (jangan ditiru!!). Bagaimana jika alih-alih hanya bingung, anak yang curhat itu sebenarnya adalah sebuah representasi dari sebagian anak-anak di dunia ini yang tidak memiliki keistimewaan untuk bisa berkomunikasi secara terbuka dengan orang tuanya?

Jumat, 19 Juli 2019

Ayah dan Ponsel Merah

Karena sekarang sudah ada Instagram yang dilengkapi dengan berbagai tools yang bisa buat semakin betah dan lebih mudah terdisktraksi dari menulis panjang di blog, jadilah si Simpul Kecil diacuhkan sejenak. Belum lagi, aku punya proyek baru yang akan segera rilis Agustus ini, insyaAllah. Tapi rindu menang kali ini, sensasi menulis di blog rasa-rasanya belum bisa dikalahkan oleh menulis di medium manapun.

Hari ini aku mau cerita tentang 'pengorbanan seorang Ayah'. Walau tentu saja aku kurang menyukai pilihan kata 'pengorbanan' yang awalnya dulu ku pikir seolah merupakan aksi yang dipaksakan. Kok pengorbanan sih kesannya heroik sekali padahal kan sudah jadi konsekuensi jika memutuskan punya anak ya pasti ada yang perlu dilakukan sebagai akibat dari perbuatan, iya kan?

Sampai akhirnya mengalah dengan istilah setelah melihat bagaimana Pamanku dengan tiga orang anak yang masih bocah-bocah datang membawa ponsel pintar baru ke rumah. Malam saat seisi rumah sudah siap tidur, Paman datang mencariku.

"Yay, ini gimana buka kuncinya?", tanya Beliau setelah memanggil-manggil namaku meminta keluar dari kamar.

"Hp baru?"

"Iya, buat Ginda.", senyum Beliau mekar, lebar.


Photo by Braden Collum on Unsplash
Pamanku yang juga aku panggil Ayah memang tidak tahu banyak soal gawai, dunia World Wide Web dan hal-hal yang berhubungan dengan digital lainnya. 
Namun sama seperti lapangan hijau, angin dan ilalang ilalang, manusia seperti Beliau lah yang tetap menjaga kewarasanku dan secara luas masyarakat desa ini.

Jumat, 20 April 2018

Tentang Anak Korban Perceraian

Kali ini aku mau menulis sesuatu yang cenderung greget. Sebenarnya sudah cukup lama dirasa mengganjal namun baru sekarang ada kesempatan menuliskan dan membagikannya.


Topik tentang perceraian bisa dikatakan masih sangat sensitif untuk dibicarakan di Indonesia. Berbagai stigma negatif yang mengikuti, belum lagi larangan agama serta nilai sosial yang ada membuat pembicaraan tentang perceraian biasanya berhenti pada ajang gosip antar tetangga.


Sebagai seseorang yang belum menikah dan bukan berasal dari keluarga yang bercerai sebenarnya inti tulisan ini apa sih?--Jadi di sini aku ingin menyoroti tentang satu topik mengenai perceraian yang jarang sekali dibicarakan.

Cr. image Freepik (free to use)