Perihal memiliki safety net seperti yang sedang ramai dibicarakan dan bagaimana contohnya di kehidupan sehari-hari.
![]() |
| Ilustrasi by me |
Kamu punya uang 50 ribu. Selai kacang yang kamu sukai harganya 25 ribu.
Saat akan mengambil di rak toko, di sebelahnya ada selai coklat yang terlihat menggiurkan. Harganya juga 25 ribu. Kalau kamu beli kedua selai, kacang dan coklat, kamu tidak punya uang lagi untuk besok makan. Kalau ambil selai coklat, kamu bertaruh pada kemungkinan. Selai ini bisa saja punya rasa lebih baik, kamu akan punya pengalaman rasa baru yang lebih seru, serta nanti ke depannya, kamu bisa ambil selai coklat dengan lebih yakin karena sudah pernah coba. Tapi kalau rasanya tidak enak. Kamu mengalami kekalahan lebih menyakitkan karena kamu harus terus makan dan menghabiskannya sementara uang 50 ribu mu telah habis setengah.
Sekarang bayangkan, alih-alih 50 ribu, kamu punya 500 ribu di kantong.
Saat akan beli selai dan melihat ada selai kacang yang selalu kamu sukai dan selai coklat yang belum pernah kamu coba, ada di rak yang sama. Kamu punya 2 opsi yang lebih leluasa. Beli keduanya, toh uang kamu masih sisa banyak. Atau tentu beli yang rasa coklat. Rasa baru yang bisa buat kamus rasa kamu makin kaya. Karena kalaupun rasanya tidak sesuai selera, kamu selalu bisa kembali ke toko dan membeli selai kacang yang biasa.
Seperti itulah safety net yang seringnya kita andaikan sebagai modal (uang) di dunia materialistis saat ini. Bahwa orang yang punya lebih banyak uang selalu lebih menang dalam pilihan-pilihan.
Uang 50 ribu dan 500 ribu adalah jaring penyelamat masing-masing orang. Nyatanya sekarang, kita tengah berada dalam keadaan itu. Masuk golongan yang 50 atau 500. Kamu dipaksa keadaan mengambil satu pilihan atau punya cukup ruang untuk menyeleksi, menentukan bahkan boleh gagal.
![]() |
| Ilustrasi by men Jam and bread |
Seseorang di linimasa menulis yang intinya, “kita selalu bisa melihat dan menilai seseorang tumbuh dengan membaca buku dari bagaimana dia menjalani hidupnya.”
Yang kedua, kali ini agak nyiyir, seorang perempuan membuat postingan tentang “kalau punya lebih banyak uang pilihlah jasa tur umroh dengan spesifikasi lebih baik, karena kalau bercampur dengan yang standar, orang-orangnya banyak yang menyusahkan dalam perjalanan.”
Kedua pernyataan tersebut dasarnya kalau kita mau telusuri adalah kesenjangan modal.
Seseorang bisa tumbuh dengan “layak”, punya kecerdasan, tahu cara membawa diri tentu dengan modal cukup besar.
Pertama, dia harus menang perjudian saat lahir ke dunia. Dimana dia dilahirkan? Siapa orang tuanya? Kapan dilahirkan? Hal-hal ini saja sudah di luar kemampuan kita memilih sebagai manusia.
Kedua, bagaimana dia tumbuh? Nilai-nilai seperti apa? Keadaan ekonomi bagaimana?
Seseorang yang lahir dari kedua orang tua dengan gaji pas-pasan tentu sulit membayangkan dia punya tumpukan buku untuk dibaca sehari-hari saat makan pun 1 lauk dibagi 3.
Ketiga, tidak semua orang punya kesempatan menemukan pintu untuk breakthrough. Untuk tahu potensi, untuk menemukan panggung, untuk masuk menemukan celah dia mendapatkan posisi di tempat lebih baik. Dengan begitu dia bisa melihat lebih jernih, punya kesempatan lebih baik, tahu tata krama priayi, dan masih banyak lagi.
Tulisan ini semoga jadi pengingat aku dan siapapun yang membaca. Jangan buru-buru menilai diri kita lebih tinggi dan paling tahu semua. Jangan mudah merasa jumawa, dengan sadar mengkotak-kotakan orang semaunya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar