Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2020

Alpha Female

Istilah baru muncul lagi, kini untuk menandai perempuan kuat, berani dan mandiri, society tidak lagi hanya menyebutnya feminis. Istilah Alpha Female, diambil dari studi tentang hewan dan atau individu dengan peringkat tertinggi. Istilah ini merujuk bagaimana perempuan-perempuan yang disebut Alpha terlihat mendominasi dan percaya diri.

Photo by joel herzog on Unsplash

Tapi belakangan sebagaimana banyak hal di dunia ini, perspektif tentang Alpha Female semakin melebar dengan tambahan ciri khas-ciri khas baru yang merujuk pada pengalaman pribadi.
Membuat aku ingin membedahnya dengan perspektif sendiri.

Kamis, 30 Januari 2020

MENGOPERASI ISI KEPALA


Perempuan layaknya binatang buruan, kadang. Kita dipojokkan dengan berbagai taring dan gigi tajam iklan yang entah bagaimana dibuat terkesan meminta kita berkaca dan menyadari betapa memalukannya tampilan luar diri.

“Mau lebih tinggi?”
“Memperbesar payudara dengan konsumsi produk ini..”
“Hidung mancung seketika tanpa operasi.”

Photo by Yoann Boyer on Unsplash

Perempuan diperdaya pada pemahaman bahwa laki-laki, punya ciri khas ketertarikan tunggal; pada keindahan fisik. Maka perempuan lalu berlomba tampil cantik, muda dan seksi.

Produk Indonesia Jadi Raja di Negaranya

Tumbuh sebagai remaja muda di daerah kecil di pedalaman Indonesia, aku dan anak-anak baru gede  di wilayah kami terbiasa jajan skincare dan make up di warung-warung palugada (apa lu mau, gua ada) atau untuk yang lebih lengkap lagi; toko-toko di pasar. Kami juga tumbuh dengan berbagai tanaman yang dipercaya turun temurun punya daya untuk kecantikan dan kesehatan.
Begitulah perkenalanku dengan berbagai perawatan tubuh dan warna warni make up bermula.

Photo by Noah Buscher on Unsplash

Agak besar, setelah merantau ke kota dengan lebih beragam manusia serta interaksi dan berbagai kemudahan akses media sosial, aku jadi semakin terpapar informasi terkait topik kecantikan. Perlahan aku mengenal tentang skincare dari Korea yang menjanjikan kulit putih, bersih sampai pori-pori terlihat samar. Tertarik, aku pun mulai mencoba hingga mengoleksi beberapa merk yang selalu tampil di laman rekomendasi.

MENONTON KIM JI YOUNG 1982, MELIHAT AKU DI DALAMNYA


“Kamu harus berpakaian dengan layak,” ucap Ayah Kim Ji Young saat menjemput putrinya yang menangis ketakutan usai turun dari bus. Keterangan lebih lanjut tentang apa yang terjadi di bus tersebut bisa kamu saksikan sendiri di filmnya.
Aku, kamu dan sepertinya hampir semua perempuan di dunia ini pasti pernah mendengar nasihat dengan maksud yang sama.

Photo by Han Chenxu on Unsplash



“Hai kamu perempuan, berpakaianlah sesuai aturan agama agar aku bisa menjaga mata dan syahwatku. Jangan tambahi dosa kami dengan melihatmu berpakaian tapi telanjang.”
Kalau ini versi ‘solehnya’ yang intinya juga sama, mengatur bagaimana perempuan mesti berdandan.


Beberapa waktu lalu seorang Akhi di grup alumni forum keislaman yang aku ikuti saat kuliah dulu, memotret postingan instagramku dan mengirimkannya ke GRUP. Iya, grup bukan pesan pribadi. Mengatakan bahwa aku telah berubah dan menasihati agar aku bisa menjadi contoh adik-adik lain dalam berpakaian.

Sabtu, 16 Juni 2018

Pelajaran dalam Perjalanan

Tahukah kamu, dulu bahkan seorang Raja berkuasa ditemani berpuluh Mentri ahli yang memutuskan melakukan berbagai ritual demi mendatangkan hujan? Mulai dari pencucian dosa hingga menikahkan anak gadisnya. Dulu, gerhana bulan dan matahari dianggap sebagai kutukan hingga mati-matian dihindari. Dianggap sebagai pertanda buruk bagi sebuah negeri.

Aku belajar tentang hal ini melalui beberapa drama Korea dan cerita-cerita dari para tetangga. Dan aku menarik kesimpulan terkait fakta yang ada, bahwa kebodohan sama seperti usaha mendapat sebuah ilmu. Keduanya memiliki konsekuensi yang besar.

Dokumentasi Pribadi

Kebodohan, pemahaman yang belum sampai, ilmu yang tidak berdasar seperti awan kelabu yang menutup cahaya. Kita buta, meraba-raba dan pada akhirnya mengambil keputusan yang tidak bijaksana.
Sedang usaha mendapat ilmu meski lelah, menghabiskan banyak waktu dan biaya bisa mengurangi resiko dari sebuah kesalahan, bisa membuka mata, telinga dan hati dari berbuat hal yang kurang bermakna.

Kamis, 04 Mei 2017

Menjadi Perempuan Indonesia, di antara Dilema Kesetaraan dan Kepatutan


 Gambar diambil dari pinterest
Hal paling inspiratif dari perjuangan Kartini adalah karena Ia melakukannya untuk kebermanfaatan dan kehormatan perempuan Nusantara bukan hanya kepentingan pribadinya.

21 April hanya akan menjadi parade kebaya dan sanggul jika kita lupa makna perjuangan yang sebenarnya. Atau hanya akan jadi sebuah pagelaran kontes minim renungan jika kita hanya sekilas terpukau pada kutipan-kutipan kata tanpa mau meneladani perjuangan dan kerja keras simbol perempuan Nusantara, Raden Ajeng Kartini, yang semoga selalu terberkati oleh Yang Maha Esa.

Menjadi perempuan bagi ku (dan mungkin dirasa juga oleh perempuan lainnya) adalah sebuah keberkahan sekaligus juga jalan terbentang panjang atas nama kehormatan dan kesetaraan. Menjadi perempuan Indonesia, khususnya, telah lama seolah digambarkan sebagai manusia kelas dua, yang tidak perlu terlalu cerdas, terlalu kaya, dan ter ter lainnya yang menunjukkan kelebihan hingga membuat laki-laki merasa kecil dan rendah diri.

Minggu, 23 April 2017

Di antara Daun Gugur

image by weheartit

‘Kamu masih suka musim gugur?’
Aku tidak ingat sebelumnya pernah begitu kaget dan menoleh secepat kilat seperti yang kulakukan sekarang.
‘Kamu masih ingat?’, tanyaku memastikan.
Kamu tertawa pelan dengan tangan kanan yang menutup bibir, seolah takut aku mengintip.
‘Tentu saja, pria lucu. Aku selalu ingat.’
Dan disinilah aku, di tengah merahnya senja. Merasa angin yang menerpaku mendingin. Jaket ku eratkan ke tubuh. Angin musim gugur.
.

Untuk Perempuan yang Merindukan Pelukan


image by pinterest

‘Aku tidak pernah memilih dilahirkan sebagai perempuan’, gumammu senja itu. 
Begitu datar, tidak terbaca.
Aku diam karena bingung memberi balasan atau kamu memang tidak butuh itu?
Lalu seperti senja hari-hari sebelumnya, kita mengisi tiap pertemuan dengan lebih banyak diam.
.
Sebagai seorang lelaki lumayan mapan di usia matang, aku telah mengenal banyak macam dari kaummu.
Hingga aku bisa menyimpulkan satu pernyataan, ‘kalian semua bagaimanapun beda rupa, latar belakang, karakter dan lainnya selalu punya satu pandangan yang serupa.’
.