Menulis kenangan, gumaman dan rencana menjadi simpul-simpul kecil penanda kehidupan
Jumat, 04 Oktober 2013
Elegi Rasa II
Ada yang pergi, lalu aku hanya akan mengais sisa-sisa rasa, bau dan tiap napas yang ia sisakan untuk ku hirup pelan-pelan sambil merasa candu akan hadirnya, perlahan wajahnya, tubuhnya akan terlihat nyata untuk kemudian berlarian menghilang bersama asap, bersama embun dan desah napas kecewa karena hanya mata yang terpuaskan sedang diri tak bisa lagi saling bersenyawa.
Ada yang tinggal, sambil sesekali memanjang-manjangkan leher untuk melihat sejauh apa aku telah berjalan meninggalkan.
Kemudian terduduk, menangis dalam isak kecil satu-satu dan usapan wajah asal-asalan, tak boleh ada yang tahu bahwa baru sebentar berjalan namun telah saling merindukan.
Ada dua hati, dua pribadi yang saling iri pada kepakan sayap sepasang burung merpati, terbang, tanpa perlu memendam dan berpura memajang senyum yang tlah sama tahu tak lagi berarti menghibur dan mengikhlaskan.
Minggu, 29 September 2013
Ada Batas
Ada batas, yang meski kau susuri jalan
panjangnya dengan sabar tanpa keluh dan istirahat di pertengahan, tak bisa
sampai, tak mampu bertatap, menyentuh juga berjabat.
Ada jarak yang meski kau buka matamu lebar-lebar tak tertangkap cahaya wajahnya diretina, yang tak terdengar meski kau ucap kata lewat suara keras hingga habis dan serak.
Ada takdir yang meski kau tangisi, kau hujani berbagai penolakan atau kata-kata pembohongan tetap tak mampu kau hindari, tak bisa kau jauhi hingga satu-satunya cara kau mampu keluar atas segala penolakan hanya dengan menjalani.
Ada jarak yang meski kau buka matamu lebar-lebar tak tertangkap cahaya wajahnya diretina, yang tak terdengar meski kau ucap kata lewat suara keras hingga habis dan serak.
Ada takdir yang meski kau tangisi, kau hujani berbagai penolakan atau kata-kata pembohongan tetap tak mampu kau hindari, tak bisa kau jauhi hingga satu-satunya cara kau mampu keluar atas segala penolakan hanya dengan menjalani.
Kamis, 26 September 2013
Realita
Kadang realitas dunia itu memuakkan, kawan.
Tak menerima yang terlalu putih, namun juga mencela yang hitam.
Membenci yang pintar, juga enggan berdekatan dengan yang malas.
Berorasi hak asasi di jalan; membentak anak-anaknya dirumah.
Berkata lembut pada orang lain, namun kasar pada keluarga.
Banyak hal yang tak ku mengerti.
Apalagi saat kau tanya mana yang benar, mana yang salah ?
Terlalu abu-abu untuk kulihat, membingungkan untuk ku pecahkan teka-tekinya secara singkat, dan kadang aku terlalu acuh untuk mencari tahu.
Namun tahukah kau, kawan.
Ada zat besar di semesta ini, yang menguasai, yang mengatur.
Yang membuat kita mesti sujud patuh, menghamba.
Ia pencipta, menggaris aturan, memaafkan kesalahan seumpama penghapus, menghapus kesalahan goresan tulisan.
Ia Maha Indah menginginkan kita indah dalam suci kebaikan. Dan kebaikan itu kau boleh baca, pahami dan ikuti melalui yang tertanam dalam kalamnya.
Kalau kau tanya apa itu benar dan seperti apa yang salah ?
Kini aku bisa menjawab dengan sodaran senyuman dan tangan membawa Quran.
Bacalah. Kau kan dapati jawabnya langsung dari ia Sang Maha Penjawab Tanya.
Rabu, 14 Agustus 2013
Lelaki Kakakku.
Gadis itu hari ini menggeleng tegas, tak seperti hari-hari kemarin.
Cukup, ta. Ujarnya. Aku kalah, kita berhenti, dan untukmu terima kasih karena tlah bersedia menemani.
Aku diam, mencoba mencari sedikit celah keraguan dari dua bola mata berwarna hitam gelap miliknya.
Setelah sejauh ini, si ?
Sebelum aku kian tak terkejar dan masuk pusaran delusi yang kian besar dan gelap, semua masih bisa terselamatkan, masih ada yang bisa aku perbaiki selebihnya hanya akan aku coba tinggalkan disini.
Payung besar yang menutupi tubuh kurus berlapis kulit yang telah mengkerut, keriput, digenggamanku sejenak kusandarkan pada tanah lusuh berpasir putih dengan debu pekat berterbangan disapu angin, aku ingin mengambil jeda menggenggam tangannya, mencoba menguatkan.
Selasa, 23 Juli 2013
Drama Mentari
Senja memutus jumpa, kala mentari dengan tangisan di wajah berbalik dan menyimpan sajak-sajak air mata yang hampir tumpah.
Air laut bergolak, menolak perpisahan yang dengan kuat terjadi karena gejolak cemburu yang demikian kuat.
Bulan dengan digdayanya bersinar, diantara kelam isak mentari di seberang dan angin yang tertiup kencang sibuk menenangkan amarah sang lautan yang lelah dan muak atas segala drama perpisahan yang kian tak memiliki kesudahan.
Sedangkan manusia yang merasa paling cerdas menginterpretasikan segala emosi yang terjadi, malah bergumam dengan senyuman, betapa indah mentari yang terbenam, riak-riak gelombang ombak lautan dan sinar bulan yang kian cemerlang.
Minggu, 21 Juli 2013
Jeda
Kaki-kaki kecilku kian berjarak dengan kaki-kakimu yang panjang, melangkah lebar-lebar.
Kucoba ikuti, berlari kian kencang, wah punggungmu kian mengecil hingga untuk menangkap cahayamu diretina, pupilku mesti melebar hampir keluar.
Selalu begitu, kau memang selalu melangkah duluan, membanggakan dan penuh semangat juang.
Kau berbalik, menungguku dengan tarikan bibir penuh tulus dan pengertian.
Maafkan aku mesti membuatmu selalu mengambil waktu untuk berhenti.
Namun diantara jeda kaku karena aku gagu untuk memulai bicara, kau selalu dengan tenang berkata
"Tak apa, jeda ini begitu syahdu bukan ? Membuat kita menghela segala kesibukkan dan impian yang kian sesak memenuhi punggung-punggung kecil yang terkadang lelah terus membungkuk dan gamang. Aku menyukainya, menyukai bagaimana kau dengan sederhana laku seolah berseru, hentikan sejenak segala polah, bukan menyerah hanya tak masalah bukan mengaku sedikit lelah ?"
Sabtu, 13 Juli 2013
Haru, Kamu
Malam kian kelam, diri makin kecil. Terasa malu hingga bisu, Rabbku.
Betapa cintaMu menggetarkan, terlisan lewat kata dan perbuatan.
Ia berbinar dengan ayat-ayat suci melantun, lurus penuh khusyuk, getar merasuk.
Kasih sayangMu tak pernah memilih pelaku, ia hanya berlalu pada yang tak tahu malu dan terpaku pada ia yang takut dan harap bertemu.
Langganan:
Postingan (Atom)





