Minggu, 10 Mei 2015

Jadilah Lebih



tumblr.com
Jika tidak ada yang tersenyum.
Lakukan lebih dulu.
Jika tidak ada ucapan penghargaan.
Ucapkan lebih dulu.

Jadilah pemantik.
Jadilah menara cahaya.
Tak perlu terlalu jumawa.
Tak perlu dikenal banyak manusia.
Hanya jadilah sederhana.
Agar manusia tak segan melangkah bersama.

Bagaimana Mungkin, Bagaimana Bisa ?




Bagaiman mungkin aku tak rindu 
Jika senyum dan nada suara paling baik selalu kalian berikan tiap kita bertemu.

Bagaimana mungkin aku tak cinta ?
Sedang kalian membuat pelupuk kedua mataku selalu basah karena terharu rasa.

Bagaimana mungkin aku tak bahagia ?
Bila bersama kalian aku mendapati kebersamaan yang indahnya bagai secuil surga.

Bagaimana mungkin aku tak harap jumpa ?
Bahkan di mimpi pun aku lega saat ku tengokan muka ada kau menemani di sana.

Drama Romantis, Ibu dan Gerimis

flickr.com

Di gerimis yang membasahi hijab putih ku yang terulur, ku titipkan rindu untuk menatapmu, Ibu. Di jejak langkah tanah becek dan kubangan air yang membuat kaus kaki cokelatku basah karena lubang di sepatu putih yang ku kenakan, ku rangkai doa penuh cinta atas segala pengorbanan yang kau lakukan.
***
Hujan membawaku pada memori di malam-malam yang telah kita lewati, di malam dingin dengan derasnya hujan yang mengalir, kau kenakan mantel hitam, memasukkan sepatu ke dalam tas biru, memakai helm, dan membungkus kaki yang mengenakan sendal jepit dengan kresek hitam besar.
Kau yang begitu tangguh dan aku yang mengantar kepergianmu sampai di depan pintu rumah sederhana kita yang bercat biru, dengan senyum dan hati yang basah oleh embun keharuan.

Senin, 24 November 2014

Dan Maha Cinta, terima kasih atas berkali-kali penyadaran atas berbagai kesalah pahamanku mengartikan tiap ketentuan.

Jumat, 03 Oktober 2014

Remot Penghenti Waktu


Dulu, aku selalu percaya bahwa bulan akan pergi tanpa air mata kala pagi mesti bertahta.
Aku pikir, mentari mendapat posisinya atas dasar suka sama suka, tak ada yang dipaksa pergi.
Tapi hari ini, semesta yang tak lagi bisa tutup mulut. Menyeretku ke pojokan angkasa.
Berbisik bahwa aku harus menemukan remot penghenti waktu.
Agar bulan berhenti pergi dan mentari tak lagi digdaya membuat iri dalam sendiri.

Aku ingat ku simpan remot itu di lemari bawah tv.
Jadi tanpa menunggu lama, ku anggukan kepala pada semesta.
Tunggu saja, mentari akan kena tulah. Pikirku mudah.

Jumat, 08 Agustus 2014

Siapa Bilang ?

Perjalanannya panjang dan penuh banyak rintangan.
Mungkin karena itu sedikit kawan yang membersamai untuk menguatkan.
Siapa bilang, perjalanan ini akan mudah ?
Siapa bilang, tak akan ada pengorabanan ?
Siapa bilang, yang mesti kita lewati adalah jalan lurus bebas hambatan ?

Tak ada yang menjanjikannya padamu bukan ?
Yang ada justru kesepian, penuh pengorbanan dan keras nian para penantang mencoba mengganggu dakwah islam.
Yang ada justru berbagai tudingan sesat, teroris dan dianggap berlebihan dalam mengamalkan ajaran.
Yang ada justru tawaran meninggalkan dakwah, teguran karena memanjangkan hijab dan picingan mata melihat aneh penampilan luar.

Kamis, 07 Agustus 2014

Tenanglah




Memang akan tiba waktu kita mesti belajar perlahan melepaskan genggaman yang dulu begitu kuat memapah kita, membersamai.

Pahamlah, karena semesta hanya sementara dan manusia yang mengisinya pun begitu. Hanya sekejap mata, mengenal, mencinta, bersama untuk kemudian pergi menjalani tiap pilihan yang diambil dengan penuh kesadaran.