Sabtu, 08 Februari 2014

Gadis Dua Puluh Satu



Tahun-tahun berlalu. Waktu cepat sekali melangkah jauh. Meski dalam prosesnya masih sering aku mengeluh atas hari-hari lelah dan kuyu, ada rindu-rindu merah jambu yang ku bagi denganmu dan bisik-bisik rahasia yang memenuhi semesta kamar kos tempat kita berbagi cerita. Ada cie cie kemudian kecewa. Hehe...

Kita beranjak dewasa juga, bergerak dari seragam putih abu-abu menuju status mahasiswa yang insya Allah kita isi dan niatkan menjadi ladang perbaikan diri yang tak ada akhirnya.
Telah jauh juga jarak dari hari dimana pertama kali kita bertemu. Hari dimana aku memandangmu cuek dan menjawab tanya dengan singkat, kau mengingatnya sedangkan aku tidak. Maaf ya, mak J


Pesan Cantik Untuk Perempuan





Seperti layaknya subuh yang sibuk berhias saat mentari masih terlelap di peraduan, makhluk Tuhan bergelar
perempuan juga telah bangun dari pembaringan, namun bukan untuk berhias tapi menghias.

Menghias rumah dengan bau bumbu dan suara-suara peralatan memasak saling berbenturan. Lesung yang bekerja menghaluskan bumbu, minyak dan bawang yang menghantarkan bau wangi yang memenuhi dapur, bau ikan setelah digoreng, nasi yang pulen dengan asap yang menari di atasnya, dan buah segar yang menarik hati untuk segera disantap.

Jumat, 31 Januari 2014

Bisa Jadi Keren


Karena saya tahu, saya bisa jadi orang keren tanpa perlu menggadaikan diri demi angka.

Alhamdulillah, ikhtiar menambah teman lewat jejaring sosial, membawa saya pada pemahaman-pemahaman baru perihal menjadi keren.
Keren yang bukan hanya dalam hal penampilan, ini lebih pada pemikiran.
Jujur pertama kali saya serius untuk jatuh cinta pada menulis yang baru satu tahun belakangan ini saya geluti karena qadar Allah mengizinkan saya mengenal kakak kelas di SMA yang telah menerbitkan buku. Self publishing. Tapi pembacanya dimana-mana.
Itu keren, karena dia seumuran saya, satu almamater SMA, satu daerah tempat tinggal dan dia bisa menghasilkan karya. Pertanyaan besar lalu muncul "kalau dia bisa, kenapa kamu nggak, ta ?"

Lalu mengenal seorang penulis, komedian juga sepertinya. Pertama kali membaca catatan di salah satu jejaring sosial. Tulisannya cerdas, berisi dan bikin betah. Lagi-lagi saya terinspirasi.

Allah, aku cinta Kamu


Memang tak selalu mudah kan berkali-kali mesti mengingatkan diri yang selalu lemah ini bahwa kau punya Dia, tempat bergantung, tempat berkeluh dan yang paling penting tempatmu bersyukur.

Memang tak mudah untuk membungkam mulut ini dari mengumpat marah, terisak sendu atau menggumam kutuk lalu menghirup napas sejenak, memikirkan dan lagi-lagi tersungkur syahdu pada janji untuk tidak mempertanyakan tiap ketetapan-Nya.

Selasa, 24 Desember 2013

Pria Desember



Desember dan hujan menjadi pasangan yang kian hari kian mesra, di tanah Lampung tempat semua cerita bermula, tempat kita saling sebut nama, bercerita dan kemudian menjadi teman yang setia.

Desember dan kamu, seperti kalimat yang tak cukup padu. Yang satu kelabu sedangkan yang lain berwarna merah jambu.

Cerita usang yang lagi-lagi ingin kubagikan, tak disangka ternyata memori tentangmu membuatku kian semangat bercerita.

Satu-satu coba kupisahkan, ku tarik benang kenangan, kali ini apakah kau penasaran tentang cerita mana yang akan ku tuliskan ?

Senin, 02 Desember 2013

Bagaimana nanti ?


Bagaimana nanti, mari saling jadi pelaku dan saksi.
Bagaimana nanti teruslah bertahan pada jalan kebenaran.
Walau banyak filosof yang kemudian memainkan kata untuk membuat kita ragu tentang apa itu kebenaran sebenarnya ?
Mungkinkah semua hanya imaji ?

Namun kau yang sekarang harusnya mampu menjawab dengan kepala tegak, dan binar dari kedua bola mata.
Kebenaran telah terasa kian kencang mengikat aliran darah, saat sayup terdengar tilawah dan hafalan al quran bergema ditiap sudut surau itu.
Saat tiap sapa berbuah senyum yang lebih manis dari wajah-wajah cerah.
Saat kau tak lagi ragu berbagi tawa dan tangis.
Ini kebenaran itu, kebenaran ukhuwah berbalut akidah yang telah dijanjikan oleh para pemegang panji amanah.

Mendadak Rindu


Ada fenomena baru, dimana menebak nebak rupa dan nama jodohmu menjadi semacam aktivitas seru penghabis waktu.
Ada cara baru berlindung atas nama kerinduan seorang lajang, kemudian merasa bebas menyebarkan virus kegalauan.
Dan yang paling menyedihkan daripada semua ribut-ribut di atas adalah, sepasang manusia yang memahami hukum pergaulan islami, yang tiap ucap berisi tausyiah islami dan raga yang berbalut pakaian syar'i mesti terjebak pada diam yang saling memikirkan, kemudian mulai menjalin hubungan. Sayangnya untuk fenomena yang terakhir hampir semua pelaku ketahuan.

Aneh memang, terlebih bagi yang telah mengerti. Bukankah kedewasaan ilmu, mestinya membuat kian patuh dan tunduk karena tlah tahu konsekuensi atas laku yang takutnya malah jadi pembenaran dan tokoh peniruan.

Selalu ada pilihan. Menikahlah jika telah mampu dan tak lagi sabar. Jika masih begitu banyak pertimbangan, ketakutan dan amanah yang mesti dikerjakan, berpuasa menjadi perisai dari terjebak dalam momen-momen yang termanfaatkan sebagai ajang kemaksiatan.

Boleh membicarakan tentang pernikahan, tapi bukan tentang jodoh yang belum ketahuan.
Mendadak rindu, mendadak tundukan kepalamu.