Kamis, 16 Mei 2013

Penyair Laut



Kau tahu apa yang paling dirindu dan dibanggakan oleh penyair ? Kata syahdu yang mampu membuat rona merah dipipimu kian bertumpuk dan membisu malu menunduk.

Aku terdiam, memaksaku terpaku dan merasa kejang, pesona macam apa ?

Membuatku menerkamu dan mulai menarik simpul diri, lalu apa aku ?

Kian erat berarti telah kian terikat, bila rasa tak mampu lagi untuk digambar lewat kata, lalu pantaskah sebuah pernyataan membuat semua kian tersurat lebat.

Aku mendengus, coba untuk menghapus sisa sisi imajinasi yang kian berkuasa.

Karena aku takut, lama ku halau, sengaja agar hulu tak pernah mencapai hilir yang berarus kuat.
Aku takut hilang keseimbangan, terombang ambing menjadi destinasi dan identitas diri, kala yang tak pernah kutunggu mencapai sisiku dan mendapat restu.

Maka biarlah sang penyair hanya terbang bebas, bebas merayu hingga ia lelah, hingga bersandar dan merindukan pulang menjadi impian, maka biarkan ia memilihnya, mencoba merebut atau menurut arus laut.

Kamis, 09 Mei 2013

Dalam Dekapan Ukhuwah, Mencintaimu Saudariku


Kita semua, anak adam, pernah melakukan kesalahandalam dekapan ukhuwah, kelembutan nurani memberi kitasekeping mata uang yang paling mahal untuk membayarnya
dikeping uang itu, satu sisi bertuliskan “akuilah kesalahanmu”sisi lain berukir kalimat, “maafkanlah saudaramu yang bersalah” 
Salim A Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah 

Kumpulan frasa ini mencekikku kuat

Seperti memintaku membuka pintalan masa awal kita kenal

Kau tau ukhti, jelas sangat tahu bagaimana aku yang penuh luka dan kecacatan rasa, kau sentuh tangannya dalam jabat mesra tanda kita tlah saling kenal nama
Bagaimana aku dengan segala keburukkan dan ketidaktahuan kau tatih perlahan menuju sebuah proses pemaknaaan

Kita melewati prosesnya bersama, di surau itu, senja kian beringsut datang, kita membentuk lingkaran dengan akhwat-akhwat berkerudung rapi dan berwajah bercahaya penuh keimanan, ukhti cantik sang pengkaji memberi kita cerita yang begitu menyentuh sanubari, membuat kita malu akan kualitas diri yang selama ini kita pikir tlah mumpuni, tlah memadahi untuk membuktikan cinta yang purna pada Ia Sang Maha Esa.

Senin, 06 Mei 2013

Kala Bila



Kala, bila denganmu aku tak jua bosan

Kala, saling menggenggam dan melengkapi aku tak jua penat

Bila, kau panggil dengan merdu suaramu, aku hanya mampu kelu

Bila, kita tlah merajut rindu hasil rangkai benang hidup yang tak kendur maupun lapuk

Kala dan Bila tlah menjadi sepasang frasa tanya atas keambiguan dan penyesalan yang nyalang meminta korban.

Aku menjadi saksi tepuk riuh pergulatan kata yang terhimpun dalam dendang keras yang tak lagi malu untuk menusuk, tak lagi rikuh menghunus pedang dengan Kala dan Bila dimana-mana, tersebut berkali seolah menunjukkan kedikdayanya.

Nyatanya, Kala dan Bila disudut dunia sana, yang tak terjamah dengan kebisingan apalagi sorak berlebihan tengah berpegangan, mesra, seolah lupa dalam arena kadang mereka menjadi lawan yang tak kenal kemanusiaan, aku mengintip malu-malu, takut mengganggu, dan kini kisah itu kuceritakan padamu, kisah terlarang Kala dan Bila, yang entah kapan akan terkuak kebenarannya, aku hanya mampu menyambung ilmu, mencari pemahaman baru akan dunia yang terlalu penuh dusta, beragam tawa tak tulus dan jabat dengan seringai melebar dibelakang.

Aku hanya mampu jatuh kasihan, melihat di ujung peraduan, sisa sore itu mereka mesti berpisah, melambaikan tangan dan berpura-pura memasang wajah datar untuk kemudian kembali menjalani siklus yang telah  tertetapkan yang tak mampu dibekukan.

Apa Mau Mu Hatiku ?


Siluet remang itu lagi, terkias hitam dan bergerak kasar

Aku menantinya, menunggu untuk melihat dalam bisu, untuk menyibak rahasia dan kebungkaman yang kian menyiksa

Kenapa aura mengundang kecemasan masih terasa dari jarak yang berkisar kesekian

Cemas ataukah ada yang ditakuti, wahai bayang hitam tak bisakah sejenak kau jawab pertanyaaan ?

Kala malam itu akhirnya tlah ku jumpai jawab dari suara serak bayangan, itu aku, wajah dan tubuh menggelap
Begitu menyedihkan

Ia menuntut, kenapa kau gadaikan semua dulu ? ia berteriak nyaris membuat telinga tuli karena pekak
Ku kernyitkan dahi tanda tak mengerti

Dimana kau letakkan iman itu ? disudut belakang hati yang jarang kau tengok dan peduli ? atau malah tlah kau gergaji dan pasung dengan simpul mati ?

Minggu, 05 Mei 2013

TITIK TEMU


Terlalu banyak alasan yang ditawarkan ataukah pembenaran karena wangi dunia dan hiruk pikuknya masih begitu silau untuk ditinggalkan ?

Masih begitu mudah kata nanti, esok dan alasan manis terbungkus kiasan-kiasan yang dilontarkan dengan nada tak ikhlas, kepayahan, dan dengus bosan dibelakang.

Itu membelenggumu, kian jelas racau setan untuk melepas segala perlindungan.
Sementara tidakkah ingat yang Alloh janjikan lebih dari sekedar sepoi nikmat angin berhembus menyentuh kulit, lebih manis dari sekedar tatapan iri dan lontaran puja puji, lebih syahdu dari sekedar mendapat perhatian yang tak berdasar ikatan.

Maka nikmat manakah yang kau dustai ? Terulang untuk diulang, berkali-kali untuk dipahami, hingga hapal bukan hanya untuk diucap.                                                                          
Tidakkah merasa bahwa itu tanya untuk kita ? Untuk tiap inci kulit yang terburai tanpa penutup, untuk tiap bubuk gincu warna-warni ditingkahi kuas kecil terkembang diatas pipi, untuk tiap helai rambut nan suci yang tak terhijabi.
Kelak dengan inikah kita menghadap ? dengan keteledoran dan keacuhan atas segala pinjaman.
Karena Ia mencintai kita. Karena Ia zat yang mencipta, memberi rasa, raga dan harta hingga kini dengan segala ciptaNya, tak malukah kita berlenggok membuang muka atas firman Nya juga nasehat Nabi Sang pembawa risalah cinta.

Selasa, 16 April 2013

Terrorist ?



Ini hasil perenungan, perjalanan yang belum cukup panjang memang.

Aku mengeluh, mengeluh pada diri ini juga pada saudaraku sendiri, sesama muslim. Aku ingin bertanya, berteriak bila ku bisa, hanya untuk jawaban atas sebuah kata “mengapa ?”

Mengapa lebih percaya pada dunia jika telah tahu janji Allah pasti nyata atas surga ?

Entah sejak kapan konspirasi besar ini membentuk simpul terpercaya berlabel kongres bangsa-bangsa, ya seluruh dunia mengamininya, ketakutan itu merajalela, ketakutan pada muslim, pada mereka yang menjalankan syariah sesuai perintah.

Entah sejak kapan ia yang berjenggot tebal dan berkerudung hitam lebih kita takuti daripada mereka para pakar liberalis, hedonis yang dengan seringai licik menyelipkan bom-bom pikiran pada tontonan kita, menjajah kesehatan makanan kita, menggempur batas halal haram kita, meleburkan semua batas seakan abu-abu itu gaya baru, seakan beriman dianggap tak jaman, dan yang berjuang dikatakan sarang keburukan. Fanatik pada yang baik ditakuti, dijauhi, dikecam sampai antipati, sedangkan ia yang menawarkan kebebasan, indahnya duniawi, kita jadikan tontonan tiap hari, kita bela sampai mati hingga tak jarang kita berani pertaruhkan iman, nurani hanya demi sebuah label trendy atas gaya masa kini.

Jumat, 12 April 2013

Perpisahan



“Penyejuk mata, pengobat hati itu disebut keluarga”

Malam ini jatuh terduduk merindu, butiran bening membuat mata kian buram seolah selaput berkabut membentuk kaca semu.

Aku pilu. Pertama kalinya merindukan kalian semua secara bersamaan, dan aku tak tahan untuk tak menulis, membocorkan wadah hati, takut sesak kian menyiksa jika keluar dengan isakan.

Saudaraku, yang entah apa artiku bagimu. Perpisahan yang kini tlah sama kita jalani, membuat kita saling terpisah diri, memaksa kita berlari dalam lintasan masing-masing, bermetamorfosa rupa, sifat dan sikap kita. Ilmu dan pengalaman membuat kita kian gemuk, menderita disana-sini, lalu berbagi tawa dengan mereka wajah-wajah baru. Kian dewasa dan termakan usia, melewati tiap babak kehidupan dengan kecemasan dan prasangka bias akan kehidupan didepan yang tanpa perjanjian.

Perpisahan itu tak menimbulkan banyak kata sayang dan air mata diawal, tapi entah kini saat episode membawaku pada pertengahan, semua kata cinta terasa ingin kubagi bersama, duduk-duduk dan saling diam. Ya, karena hanya diam yang mampu mengejawantahkan saat kata tlah kelu untuk ku utarakan, sambil menatap wajah satu persatu, mengais kembali memori lama tentang seperti apa kalian dulu, menarik bibir dan berkata “Ah.. Tlah banyak yang berubah.”