Jumat, 16 Maret 2018

CERITA TENTANG MAMA (Bag 1)

Gambar dari pinterest.com

Memulai cerita hari ini terasa lebih susah dibanding biasanya. Beberapa kali postingan ini seperti akan dimulai, namun jari lebih cepat menekan tombol hapus dan akhirnya kisah tidak pernah selesai.
Postingan kali ini akan sepenuhnya dipersembahkan untuk Mama. Perempuan tangguh yang mengajarkan banyak hal lewat kelebihan juga kekurangannya.

Perempuan ini berusia 22 tahun ketika memutuskan menikah dengan laki-laki yang belum lama dikenalnya. Dia, si gadis adalah anak pertama dari 6 bersaudara dengan 2 adik perempuan dan 3 adik laki-laki yang tumbuh besar tanpa banyak kenangan dan bantuan dari seseorang yang bisa dipanggil Ibu. Nenek ku, perempuan tangguh lainnya, meninggal tidak lama setelah melahirkan anaknya yang terakhir.

Dari sebuah daerah kecil, Mama ketika muda memutuskan pindah ke daerah lain yang saat itu sedang membutuhkan buruh untuk pabrik yang baru saja dibuka. Ketika bercerita tentang bagaimana ia menghabiskan masa mudanya dengan bolak balik asrama karyawan dan rumah Ayah nya tiap minggu untuk mengantarkan kebutuhan hidup, mencuci pakaian dan mengurusi adik-adiknya, aku melihat matanya bersinar dengan penuh kebahagiaan. Dia pasti sangat bangga akan dirinya.
Mama juga cerita, karena pekerjaannya yang cukup berat sedang ia masih sangat muda ketika mulai bekerja dengan waktu kerja yang berganti tiap minggu, pagi-malam-pagi-malam, membuatnya beberapa kali sempat dibawa ke balai pengobatan di dekat pabrik. Tapi semua kesakitan dan desakan dari Kakek ku untuk pulang saja ke kampung, diacuhkannya. Bukan karena bujukan itu tidak menarik hati. Tentu saja siapa yang menolak untuk berada di dekat orang tua apalagi dengan adik-adik yang masih butuh dukungan? Namun Mama kukuh untuk terus bekerja dengan pikiran sederhana, memperoleh uang sebanyak-banyaknya untuk Ayahnya.

Dengan ijazah yang tidak tinggi, Mama sangat sadar satu-satunya peluang untuk bisa hidup adalah dengan mengandalkan keuletan dan itu dibuktikannya. Hingga hari ini, perempuan sederhana itu masih bekerja di pabrik yang sama dengan syukur nya posisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Setelah bekerja tidak lama di pabrik dengan penghasilan bulanan yang cukup, tidak lama ia dan kekasihnya kala itu memutuskan untuk menikah. Dengan mas kawin yang sangat sederhana. Hanya sejumlah uang dan seperangkat alat solat. Pernikahan yang dilakukan di rumah Kakek ku pun selesai. Papa memutuskan pindah bekerja dan mengontrak bersama Mama di daerah tempat Mama bekerja. Kontrakan tempat mereka tinggal sangat kecil. Pendapatan yang tidak seberapa belum lagi dibagi-bagi dengan memberi orang tua membuat mereka tidak memiliki banyak peralatan dan perlengkapan rumah yang layak.

Salah satu kisah lucu namun sangat manis yang diceritakan Mama yakni ketika sekali waktu Kakek ku, Ayah Mama berkunjung ke kontrakan dan hanya menemui satu lembar tikar di ruang tamu yang digunakan untuk duduk tamu, makan dan kadang berbaring. Keesokan harinya Kakek pulang ke rumahnya untuk kembali lagi sembari membawakan kursi plastik 2 buah yang ia paksa masukan ke dalam bus.

Kelahiranku bisa dibilang sangat cepat, kedua orang tua menikah di awal januari dan aku lahir di bulan Desember. Sejujurnya tentang masa kecilku, aku hampir tidak punya kenangan berarti selain perasaan kesepian dan kesendirian. Ketika aku mulai agak besar dengan penghasilan yang mulai membaik, orang tua ku memutuskan untuk kredit rumah di sebuah perumahan dekat pabrik. Mama dan Papa memutuskan tidak lagi bergantian waktu kerja karena mulai memiliki sebuah sepeda motor dan untuk menghemat biaya bolak balik. Tante ku, adik bungsu Mama yang kebetulan telah menyelesaikan sekolahnya lalu diajak tinggal bersama kami sekalian untuk mengawasiku.
Tentang ini pun ingatan ku tidak lah banyak selain karena Tante ku ternyata adalah seorang gadis yang sangat mudah berteman dan memiliki kumpulan. Jadi saat malam ketika orang tua ku bekerja, dia akan keluar untuk menemui teman-temannya, meninggalkan aku di rumah sendirian.

Sejak kecil aku dipaksa keadaan untuk mandiri. Aku sudah bisa memasak sejak masuk sekolah dasar walau hanya sekadar telur goreng untuk sarapan yang biasanya kuhabiskan dengan menambahkan kecap manis. Di waktu-waktu itu, Mama dan Papa sedang sangat fokus bekerja. Mereka berada di waktu tersibuk, hingga seringnya aku berangkat sekolah bahkan tanpa melihat wajah mereka, karena mereka masih ada di pabrik. Biasanya uang saku sudah diberikan malamnya sebelum mereka berangkat bekerja.

Ketika duduk di sekolah dasar ada dua hal yang sejauh ini aku ingat benar-benar jadi alasan ku iri dengan teman-teman yang lain. Pertama, bekal sekolah yang tidak pernah ku miliki. Kedua, waktu dari orang tua ku untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah seperti yang sering teman-temanku ceritakan.

Bersambung ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar