Sabtu, 13 Mei 2017

Solusi Gadget Murah Berkualitas, Axioo Aja



Gambar diambil dari pinterest


Bagi aku yang seorang sulung dari 6 bersaudara dan anak dari sepasang buruh pabrik swasta, berkuliah di sebuah perguruan tinggi negeri adalah sebuah kemewahan sekaligus anugerah yang patut disyukuri. Namun seperti kata pepatah, kesenangan dan kesedihan akan datang silih berganti dalam tiap keadaan, aku dan keluarga pun tidak luput dari ketentuan itu. Setelah menikmati momen bahagia dengan diterimanya si sulung naik jenjang sebagai mahasiswa, tak lama kami pun lalu saling menatap penuh kekhawatiran. Bagaimana tidak, biaya per semester, biaya indekos belum lagi ongkos hidup sehari-hari tengah menghantui pikiran kami.

Aku adalah seorang gadis yang tumbuh dan besar di sebuah kampung kecil di kabupaten Lampung Tengah, Lampung, di mana disekitar tempat tinggal kami tidak ada satu pun perguruan tinggi negeri yang bisa dimasuki. Sehingga satu-satunya cara untuk mendapat pendidikan lebih lanjut adalah dengan hijrah dan menetap di kota. Kecemasan melingkupiku dan meski orang tua tidak berkata apa-apa, aku tahu mereka pun merasakan hal yang sama.
Hari berganti, waktu semakin menyusut ke hari H kepergian. Banyak hal yang kami siapkan dengan tidak pernah kehilangan senyuman. Untuk pertama kalinya aku akan merasakan tinggal jauh dari orang tua. Sembari mengemas barang ke dalam koper kecil dan memasukkan beberapa barang, Ibu bergumam bangga mengatakan bahwa anaknya telah dewasa.

Setelah kesibukan mempersiapkan diri dan pakaian, aku teringat satu hal lagi yang sangat penting dan sampai saat ini belum bisa aku miliki. Sebuah Notebook. Bagaimana pun, setelah mendengar beberapa cerita kakak kelas, aku tahu bahwa Notebook adalah salah satu gadget penting untuk melengkapi kegiatan belajar saat mulai kuliah.

Dulu saat menyusun karya tulis ilmiah guna melengkapi syarat kelulusan sekolah menengah atas, Paman sempat meminjamkan Notebook bekas temannya yang sayangnya tidak lama kemudian rusak karena tidak sengaja terinjak Adikku. Jadilah aku berada di dalam dilema untuk mengatakan kebutuhan yang sebenarnya atau diam saja.

Pada akhirnya kuputuskan untuk mengatakan dengan jujur, karena toh jika terus berpura baik-baik saja aku takut ke depannya akan terus melakukan kebohongan yang kian mempersulit diriku dan membuat sedih Ibu.

“Mah, sepertinya Iyay* butuh beli yang buat ngetik itu untuk kuliah. Kira-kira Mamah ada dananya?” tanyaku perlahan setelah membulatkan tekad dan membuang sejenak perasaan tidak enak.
Aku ingat saat itu Ibuku diam beberapa lama sebelum menjawab, “nanti ya, Yay*. Mamah coba lihat dulu. Kalau kira-kira ada sedikit kelonggaran, nanti kita pakai untuk beli itu.”

Ibuku bukan lah seorang yang update dengan segala gadget dan teknologi, Ia yang hanya lulusan sekolah menengah harus berpuas diri mengalah tidak melanjutkan pendidikan demi pendidikan adik-adiknya. Hingga kini Mamah bahkan tidak begitu fasih mengucapkan berbagai alat teknologi seperti Notebook, Tab dan sebagainya. Namun Ibuku seperti juga Ibu lainnya di dunia ini, memiliki hati paling besar untuk menampung berbagai pinta anaknya dan berusaha mewujudkan setengah mati.

Seminggu setelah mengatakan hajatku, Ibu menghampiri dan berkata telah memiliki dana untuk membeli Notebook. Sungguh tidak terkira riangnya hatiku. Di atas angkutan kota menuju pasar yang jaraknya sekitar setengah jam dari rumah kami, aku merasa seperti tengah menaiki kereta kencana menuju tempat pesta dansa, bedanya aku tengah menuju salah satu toko di pasar guna membeli Notebook idaman.

Sesampainya di toko yang menjual berbagai gadget, aku dan Ibu serentak terdiam. “Ah, aku harus beli yang mana?” gumamku dalam hati. Aku menengok Ibu dan bertanya jumlah uang yang dipunya. Ah hanya segitu, lagi-lagi aku bicara dalam hati. Maka aku harus memilih yang murah dan sayang biasanya segala sesuatu yang murah cenderung tidak berkualitas. Tidak bisa berbohong, kala itu aku sedikit kecewa. Tapi lalu aku teringat pada Ibu. Beliau sudah berusaha yang terbaik demi aku. Apa yang harus aku keluhkan?

Kembali bersemangat, aku berkeliling sebentar di sekitar toko, melihat-lihat. Dari seluruh Notebook yang terpajang, sejak awal mataku tertuju pada satu yang memiliki case berwarna ungu. Selain karena ungu adalah warna kesukaanku, Notebook satu itu terlihat nyaman untuk digunakan. Kecil namun cantik. Mendekat pada penjual, aku bertanya tentang si ungu. Ternyata Notebook itu bermerk Axioo Pico Cjm d825. Takut-takut aku berbisik menanyakan harga. Dan betapa girangnya saat si penjual menyebut angka yang sangat terjangkau untuk membawa pulang si ungu imut. Aku bergegas menghampiri Ibu untuk mengatakan keinginanku membawa pulang Axioo Pico.

Gambar diambil dari koleksi pribadi 

Singkat cerita, Axioo Pico yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama hingga kini adalah gadget kesayangan yang selalu ada. Bahkan untuk menuliskan cerita ini pun aku menggunakannya. Bersama cerita ini aku ingin berterima kasih untuk Axioo karena telah menyediakan gadget dengan harga terjangkau namun berkualitas baik yang bisa memenuhi kebutuhanku dan aku yakin banyak orang lain juga di luar sana.
Terus lah berkarya memberikan yang terbaik untuk Indonesia.

Ketereangan:
*Iyay/yay panggilan ringkas dari Kiyay adalah panggilan kepada Kakak dalam Bahasa Lampung

Tulisan ini diikutsertakan pada Axioo Blog Competition.

3 komentar:

  1. Bentuknya portable banget ya Mbak, ngepas buat blogger yang mobile nih.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, warna case nya juga unyu. Warna favorit sih.

      Hapus
  2. wah muarh tapi penampilan ok juga ya

    BalasHapus