Senin, 17 Desember 2012

Palestina ku


Sepucuk Doa Untuk PALESTINA

Bersabarlah wahai saudaraku,
'tuk menggapai cita
Jalan yang kau tempuh  sangat panjang.
Tak sekedar bongkah batu karang.
Yakin lah wahai saudaraku,
kemenangan kan menjelang


Jalan Juang- Izzatul Islam

Palestina, dulu mana aku tahu tentangmu, dulu mana akau tau tentang mujahid-mujahidmu.
Dulu mana aku tahu sekian perih perjuanganmu membebaskan diri dari cengkeraman zionis Israel terkutuk.

Mana aku peduli, tahu pun tidak.
Palestina, cintaku, saudaraku.

Maaf, maaf.
Atas kebodohanku, kebebalanku, keacuhanku.
Aku hanya sibuk tertawa saat engkau dicekam nestapa, manusia di atas tanah-tanah ku tidur dengan kasur empuk dan selimut, sedangkan di tanahmu, manusianya tidur di bawah reruntuhan rumah dengan penuh rasa takut.
Anak-anak yang menjadi tunas dari kemajuan bangsaku malah malas berangkat ke sekolah yang besar, yang bagus dengan segala fasilitas,
sedangkan anak-anak bangsamu dengan gagah berani bersekolah diantara moncong-moncong mobil Zionis yang melintas.
Anak-anak itu sibuk bermain tembak-tembakan video game, sementara anak-anak di tempatmu, menghadapi tentara bengis Zionis hanya dengan batu ditangan.

Aku dengan bangga, menjalin kerja dengan para penganut liberal, kapital. Sedangkan kau, tak ada jalan untuk memasok makanan ke dalam tempat perjuangan, tanah airmu.
Jangan kan melakukan seperti yang mereka tuduhkan, apanya yang menyerang tentara ? Apanya yang merebut tanah-tanah mereka ?
Yang ada si munafik itu yang mencekik leher-leher pemuda mu, yang meluluhlantakkan sekolah dan rumah-rumah, yang menyebarkan kecemasan, ketakutan namun juga secara tidak langsung membangkitkan keberanian, cita-cita syahid pada diri manusia di Palestina sana.

Aku yang mendapat anugerah sebagai tempat bagi masyarakat islam terbesar di dunia, tak bisa berbuat apa-apa, maaf, mungkin manusia-manusia itu belum tahu atau malah tak mau tahu.
Aku tak tahu.


Palestina, jujur aku iri padamu, di tanahmu, ada masjid suci kami, tempat kiblat kami dulu berada. Dan kini manusia-manusia mu pun terkenal dengan mujahid-mujahidnya, dengan penghapal Qur'an nya, dengan pekik takbir dan lemparan batu nya, dengan keberanian dan semangat juang yang tak akan padam.

Palestina, mungkin sebenarnya aku lah yang terjajah.



Dari ku,
Indonesia, yang mengaku sebagai saudaramu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar